Breaking News
Loading...
Sunday, December 11, 2011

Anak Kerang

  • mutiaraPadasuatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh padaibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah danlembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhantidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehinggaIbu tak bisa menolongmu.”
    Siibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalahitu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi.Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit.Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kauperbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.
    Anakkerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakitbukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukannasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalamdagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dansemakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebihwajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuhmengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadisangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun,lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orangsebagai kerang rebus di pinggir jalan.
    sumber: unknown

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer