Breaking News
Loading...
Friday, May 6, 2011

Life Challenges

Banyak di antara Anda, yang walau perlu berusaha keras, pada akhirnya bisa mengenali kekuatan Anda. Andatahu sisi terang dari diri Anda yang kemudian bisa dijadikan modal untuk menggapai mimpi yang ada.Ada sebagian yang lain yang bahkan sudah tahu sejak lama apa yang sungguh dia inginkan. Sebagian dari Anda mungkin sudah punya cita-cita yang amat jelas sejak Anda bisa berpikir.Tak sedikit yang hari-hari ini bahkan tengah berkutat dalam pengejaran impian itu.

Mengenali impian dianggap jadi salah satukunci. Kejelasan cita-cita juga dipandang penting yang akan membantu kita untuk mendapatkan apa yang kita mau. Jadi bisa dibayangkan kekuatannya ketika kejelasan itu berkolaborasi dengan kekuatan yang sudah dikenali. Banyak yang optimis bahwakekuatan yang ada akan jadi modal berharga untuk segera mewujudkan cita-cita. Sungguh bisa dipahami kalau banyak di antara kita yang sungguh percaya bahwa memadukan dua modal di atas -pemahaman akan potensi diri dan pengenalan akan tujuan – akan memudahkan seseorang untuk meraih apa yang dimau. Sungguhkah semudah itu ? Benarkah dua modal di atas sudah cukup untuk jadi tiket masuk ke dalam kelompok orang yang sukses ? Lalu bagaimana realitanya ? Apayang sebenarnya menjadi penghambat usaha kita ? Mengapa kita tak juga sampai pada apa yang kita mau ?

Saya serahkan pada masing-masing Anda menjawab tanya di atas. Saya juga punya jawaban sendiri atas pertanyaan macam itu. Dan yang pasti, pertanyaan sederhana di atas sungguh sempat membuat saya berhenti sejenak. Saya baca berulang kali, dan mencoba mencari jawaban dari dalam hati. Awalnya dengan cepat terlontar banyak argumen, yang sayangnya adalah buah pikiran semata. Sementara untuk jenis pertanyaan macam itu respons dari otak saja tak akan cukup. Kadang ada jawaban-jawaban tegas yang justru diekspresikan dalam diam.

Jawaban dari hati terdalamlah yang lebih menggambarkan dinamika realita peta hidup kita. Jawaban yang datangnya dari kepala kadang lebih banyak dibungkus oleh dorongan mempertahankan ego.Ia sering kali jadi wajah lain dari sikap defensif kita. Untungnya pertanyaan di atas memang tidak diajukan sebagai bahan ujian kenaikan kelas di sekolah umum yang Anda kenal. Di sekolah macam itu, Anda memang harus mengandalkan ingatan Anda. Kemampuan Anda menghafal akan sangat berguna. Jawaban dari otak Anda yang encer amat sangat jadi andalan.Untungnya ini adalah soal ujian dalam kelas untuk kenaikan tingkat kesadaran kita. Ini bukan ujian formal atau ujian negara. Ini adalah jenis ujian di semesta kesadaran kita yang hanya mensyaratkan kejujuran terbaik yang bisa kita tampilkan. Tetap ada repotnya.

Tak semua kita, termasuk saya bisa dengan mudah jujur. Apalagi ketika kejujuran itu bermakna sama dengan mengungkap kekurangan yang ada. Bahkan dalam ruangmeditasi pribadi pun, tak mudah buat banyak orang untuk jujur apa adanya. Jadi saya tak janji, coretan ini juga akan dipenuhi kejujuran saya pribadi (aha). Untungnya, saya dan Anda akan tetap tahu apakah sedang jujur atau tidak. Dengan begitu, kita juga bisa tahu jawaban terjujur yang mungkin masih kita simpan di pojokhati.

Nah terkait dengan pertanyaan di atas, saya coba berkaca ke dalam diri, dan mencari tahu apa yang sesungguhnya ikut menghambat saya dalammencapai cita-cita. Memikirkan jawaban-jawaban itu, dengan cepat terlintas banyak rencana, mimpi dan ambisi yang pernah saya ucap atau sekedar di simpan sendiri. Mencarijawaban-jawaban itu, langsung tergambar lintasan jejak perjalanan yang pernah saya tempuh.Saya menengok ke belakang. Melihat kembali diri saya yang pernah berjalan tertatih, terengah laluberhenti. Ada juga gambar di mana saya lari begitu cepat, memanfaatkan semua daya, namun akhirnya ternganga, bersandar di dinding dingin hampa. Apa yang saya capai mungkin tak semuanya menggambarkan nilai dan prinsip saya. Jadi wajar jika ada banyak momen di mana saya justru kehilangan gairah atas apa yang saya dapat. Yang saya kejar ada yang tak saya dapat, namun yang ada di tangan justru tidak semuanya yang saya mau.Namun pada situasi macam itulah salah satu kemampuan manusia bisa dimanfaatkan.

Manusia, Anda dan saya punya kemampuan memilih. Anda dan saya bisa melihat realita yang sama dalam bingkai yang berbeda. Tiap kita punya petanya sendiri. Anda dan saya bisa mengolah sedemikianrupa realita yang ada. Anda dan saya punya pilihan untuk membingkai ulang kenyataan yang kita hayati. Dengan cara itulah salah satunya kita bisa menarik hikmah dan akhirnya belajar.Dan saya belajar dari pengalaman lama. Banyak kisah gelap yang mengajari saya kesediaan untuk tak mengulangnya. Banyak kisah tak menyenangkan yang mengajari saya untuk tetap bersyukur. Banyak perjalanan sederhana dan konyol yang menuntun saya untuk mengambil hikmah besarnya. Banyak kejadian kecil yang mendorong saya melihat dari kontekslebih besar. Banyak kegagalan yang mengantar saya pada kekurangan yang ada. Pada titik perenungan macam itu, menarik kiranya mengingat kembali pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

1. Apa sesungguhnya yang paling menghalangi saya ?
2. apa tantangan terbesar kita ?
3. Apapelajaran terbesar yang pernah kita dapat ?
4. apa yang membuat kita tertahan dan mundur ?
5. apa yang jadi kekurangan dan yang tidak kita sukai dari diri kita ?
6. siklus macam apa yang pernah berulang terjadi dalam kehidupan kita ?

Bukankah tak jarang dari kita yang berulang kali mengalami masalah dan kegagalan yangternyata semuanya berasal dari sumberyang sama.Kegagalan perkawinan, karir dan keuangan sering kali menimpa banyak orang. Ada yang karirnyamandek karena soal ketiak mampuan membangun hubungan.Oleh atasan dimusuhi oleh bawahan ditakuti. Anda semua punya kisahnya sendiri-sendiri. Dan saya coba mengingat lagi apa saja yang paling mungkin menghalangi banyak usaha saya. Saya coba telaah kembalimengapa saya belum juga mendapat sejumlahhal yang sejak lama saya idamkan. Memang ada soal-soal di mana perubahan prioritasikut mempengaruhi bagaimana saya mengejar itu semua. Namun tetap saja, tak bisa dipungkiri memang ada sejumlah isu yang perlu jadi perhatian saya di masa mendatang.Ada target yang tak saya dapat karena saya kehilangan fokus. Saya pernah kewalahanmemainkantarget-target saya (glass ball). Alhasil beberapa di antaranya justru tak terkelola dengan baik, yang di ujung hari pernah menyeret saya dalam sesal. Karena fokus tak mantap, gerak saya melompat sana-sini, yang pada akhirnya terkesan lamban.

Progres tak cepat saya rasakan, sehingga kadang putus asa sempat menggoda.Saat Anda tak juga sampai pada tujuan, Anda bisa dengan cepat mencium bau keraguan di sana-sini. Saya sempat mengalami itu. Saya sempat ragu dan bertanya apakah saya masih mau mengejar itu semua ? pada beberapa titik,itu semua tak lepas dari standar yang mungkin kurang pas. Tak sedikit di antara kita yang tak sistematis dalam menyusun target. Banyak ambisi yang seperti diambil dari awan dan tak punya pijakan yang membumi.Bagaimana dengan Anda ? Dinamika pengejaran Anda tentu beda warna dari punya saya ? Anda tentu bisa punya narasi warna-warni ? Dan narasi macam itu layak jadi bahanbelajar.Yang pasti, terus saja kita perlu menjaga semangat untuk tak berhenti melakukan introspeksi. Diam sejenak dan tanyakanpada hati :

1. Bagaimana dengan tingkat komitmen kita ?
2. Bagaimana dengan tingkat kepercayaan diri kita ?
3. Bagaimana dengan tingkat disiplin kita ?
4. Bagaimana dengan tingkat kreativitas kita ?
5. dan lainnya

Saya suka jenis pertanyaan sederhana seperti di atas. Karena bukan jawaban, namun pertanyaan-pertanyaanlah yang kadang lebih kita butuhkan. Pertanyaan-pertanyaanlah yang kadang lebih kuat menghantam kesadaran kita, ketika banyak anjuran yang justrulewat begitu saja.Saya berharap semoga pertanyaan sederhana di atas membantu kita mengenali masalah, kendala, tantangan yangpernah ada, yang selama ini mungkin membuat kita lambat bergerak. Bisa jadi soalnya bukan pada kekuatan Anda.

Anda punya kelebihan yang bisa diberdayakan. Soalnya kadang bukan pada ketidak jelasan target. Banyak di antara kita yang punya impian amat nyata. Soalnya kadang justru karena kita lupa ada masalah-masalah lama yang belum kita bereskan. Mengenali masalah-masalah itu, dengan demikian akan makin mendekatkan kita pada tujuan yang kita idamkan.

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer