Breaking News
Loading...
Wednesday, June 2, 2010

Bawang Merah dan Bawang Putih

Jaman dahulu kala disebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu danseorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalahkeluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa,namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putihsakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berdukademikian pula ayahnya.
Didesa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama BawangMerah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah seringberkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan,membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani BawangPutih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwamungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah,supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
Denganpertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah denganibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baikkepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulaikelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaanberat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harusmengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunyahanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidakmengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatuhari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejaksaat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-menaterhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat.Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dansarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makanternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Laludia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyakpekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannyadengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akanmencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagiini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akandicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapakdi pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangatcerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya.Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satubaju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah bajukesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinyatelah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untukmencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa diakembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasarceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harusmencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belummenemukannya. Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan bajuibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluranakar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana.Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawangputih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya.Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah pamanmelihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukandan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnyacepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklahpaman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembalimenyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa.Sebentar lagi malam akan tiba,dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal darisebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itudan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“SayaBawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut.Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanyaBawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya.Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukaibaju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kauharus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidakmengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putihberpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasaiba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenektidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selamaseminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawangputih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itumerasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek punmemanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini.Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itusesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kauboleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
MulanyaBawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya.Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidakkuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkanBawang putih hingga depan rumah.
Sesampainyadi rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinyasementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkahterkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyataberisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranyadan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yangdengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Merekamemaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkanhadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengarcerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukanhal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya.Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggirsungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untukmenemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin,selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun adayang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selaludikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itumembolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenekmemberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanyabawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salahsatu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambillabu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.
Sesampainyadi rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembiramemperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akanmeminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai.Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyatabukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkanbinatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain.Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hinggatewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.
Kontribusi dari : setia (Setiazuriatinidamai_99 @yahoo. co.id)

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer