Breaking News
Loading...
Monday, April 18, 2011

Bertahan Hidup Dengan Kekurangan

Seperti biasa setiap hari selasapagi, dikantorku mengadakan metting Mingguan, Karena takut terlambat metting dikantor, aku buru-buru mencegat tukang ojeg yang mangkal didekat salah satu stasiun swasta di Jakarta Barat. Sedikit kaget dan iba, Ternyata tukang ojeg yang aku panggil ternyata seorang tuna runggu (bisu), Aku sempat binggung bagaimana cara memulai komunikasi dengan seorang yang tidak bisa bicara selancar manusia normal. Akhirnya dengan bahasa tubuh semampuku aku bisa berkomunikasi dengannya dan dia dapat mengantarkan aku cepat dan tepat dikantor, sehingga aku tidak terlambat metting hari itu.

Sempat aku renungkan seorang tuna rungu, narik ojeg sangat jarang sekali. Tapi pekerjaan itu Sangat mulia. Dan dia berjuang keras dengan tukang ojeg yang lain

yangbicara lancar serta komunikasi lebih baik, tidak seperti dia seorang bisu yang mungkin sangat mempengaruh indra pendengarannya juga. Tetapi dia tidak patah semangat dan minder, dengan Rasa percaya diri dan suatu kemauankeras dapat bertahan hidup dikota metropolitan ini.

Dengan bahasa tubuh, dan sedikit bicara “ah uch…uch…” dia tetap yakin dapat mengantar orang ketujuannya. Itulah yang dilakonin Tukang Ojeg bisu yang penuh percaya diri dan meyakinkan dia bisa, layaknya seperti seorang yang tidak mempunyai kekurangan apa-apa terhadap dirinya.

Semestinyakita harus menerima apa yang ada kekurangan dalam diri kita

Termasuk fisik, Karena Tuhan mempunyai suatu rencana yang lebih baik dan bermakna.

“Sesuatu kekurangandalam diri baik fisik atau hal lainnya, dapat menjadi nilai lebih bagi orang lain dan Diri kita sendiri”

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer