Breaking News
Loading...
Wednesday, April 27, 2011

Jangan Merencanakan untuk Berbuat Baik

Membaca judulnya mungkin sebagian besar respon kita adalah  "Lho kok gitu ?", "Gak salah tu ?" atau berupa pertanyaan-pertanyaan senada yg meragukan judul tulisan ini. Demikian juga saya ketika pertama kali membaca kalimat tersebut. Kalimat itu saya baca di antara kalimat lain yg terpasang di dinding ruang kerja salah seorang klien yg kebetulan beliau adalah seorang penghayat kepercayaan. Sayang saya datang ke ruang kerjanya bukan dalam kontek untuk itu sehingga tidak ada kesempatan untuk menanyakan apa maksud dari kalimat "Jangan merencanakan untuk berbuat baik".

Setelah beberapa kali merenungkan kalimat di atas saya menemukan apa yang jadi pokok kalimat di atas, yaitu 'merencanakan/rencana'. Saat kita membuat rencana atau merencanakan sesuatu, hampir pasti kita telah memiliki tujuan atau goal yang hendak dicapai dengan rencana yg kita susun. Bahkan sebuah rencana tersusun karena ada sesuatu yg melatarbelakangi, ada visi,ada misi,ada tujuan dan sasaran. Tapi apa ada yg salah dengan merencanakan berbuat baik ? Jelas tidak ada yg salah dengan semua itu. Lalu kenapa ada ajaran yg melarang kita merencanakan untuk berbuat baik ? 

Dengan keyakinan akan adanya kebenaran atau ada sesuatu yg belum bisa saya pahami dari kalimat itu maka proses perenungan dan pemahaman pun terus berlangsung dalam diri. Jelas sekali kalimat tersebut secara sematik kebahasaan adalah suatu kalimat larangan. Namun ketika kita mampu membuka cakrawala pikiran dan melihat dari sudut pandang yang berbeda, ternyata 'Larangan' pada hakikatnya adalah 'Perintah' juga. Larangan mengerjakan sesuatu adalah Perintah untuk tidak mengerjakan sesuatu. Tanpa mengurangi maknanya, maka kalimat 'Jangan Merencanakan untuk Berbuat Baik'  saya transformasikan menjadi kalimat perintah, 'Berbuat baiklah, tanpa direncanakan'. Dengan mentransformasikan menjadi kalimat perintah maka kalimat itu bisa lebih dicerna dan dipahami. Meskipun saya belum juga menemukan ada apa dibalik kalimat tersebut. Dan rasa keingintahuan itu membawa langkah saya untuk melakukan perintah tersebut.

Praktek pertama berbuat baik tanpa direncanakan saya lakukan, saat saya keluar dari parkiran motor di sebelah barat Amplaz(Ambarukma Plaza di Yogyakarta). Saat itu di belakang saya ada dua orang (saya tidak mengenal mereka) yang sama-sama mau keluar dari parkiran. Saat di pintu keluar, saya menyerahkan tiket parkir sambil membayarnya.
"Sekalian tiga mas, dengan dua motor yang dibelakang itu." Kata saya kepada petugas parkir. Dan segera saya berlalu untuk pulang.Saya tidak memikirkan lagi, bahkan saya tidak tahu bagaimana sikap kedua orang yg dibayari parkirnya oleh orang yg tak dikenalnya. Kemudian saya melakukan lagi dan lagi, berbuat baik secara acak tanpa direncanakan. Dan ternyata saya menemukan bahwa, berbuat baik tanpa direncanakan adalah cara yang efektif untuk bersentuhan dengan kenikmatan memberi tanpa mengharapkan balasan apa-apa, bahkan semakin terasa dalam nikmatnya ketika hal itu tidak diketahui siapa-siapa. Bahkan saya tidak perlu memikirkan apakah hal ini dapat mempengaruhi si penerima dan mendorongnya untuk berbuat baik juga kepada orang lain. Saya juga tidak memikirkan apakah nanti perbuatan baik ini akan berkembang secara berantai ataukah tidak. Saya hanya melakukannya saja.

Berbuat baik yang direncanakan tidak salah juga sih. Namun biasanya sebuah rencana itu ada latarbelakang, visi misi dan tujuan. Salahnya jika latarbelakang, visi misi atau tujuan (salah satu atau beberapa) tercemari oleh rasa ingin mendapat pengakuan, ingin memperoleh balasan, atau sekedar dilatar belakangi oleh sebuah kepentingan. Dan itulah yang sering terjadi pada kita (terutama saya).

Tak ada resep atau jurus jitu bagaimana cara mempraktekan berbuat baik secara acak tanpa rencana. Kebaikan semacam ini muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Anda bisa saja spontan membersihkan tempat ibadah atau lingkungan tempat tinggal. Menyeberangkan orang lain saat lalulintas sedang ramai. Mendaftar menjadi sukarelawan. Mendaftar jadi calon donor kornea mata dan lain sebagainya. Atau tiba-tiba saja mampir ke PMI untuk donor darah. Anda mungkin ingin melakukan semua itu dan ingin melakukan hal-hal lainnya lagi. Lakukan saja, apa saja. Intinya 'memberi' itu kenikmatan dan tak perlu mahal.

Dengan melakukan perbuatan secara acak, tanpa direncanakan, Anda akan memperoleh sensasi kepuasan dan kenikmatan luar biasa. Minimal hal tersebut akan memberikan energi positif dalam kehidupan Anda, dan akan selalu mengingatkan kepada kita akan aspek utama kehidupan yaitu, "Pelayanan", "Kebaikan" dan "Cinta". 

Saya berharap Anda segera melupakan semua yang saya tulis di atas. Jangan di ingat, jangan dipikirkan. Lakukan saja, dan jangan berharap mendapatkan sesuatu. 

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer