Breaking News
Loading...
Monday, April 11, 2011

True Leader Starts On The Inside

Robert K. Greenleaf dalam Servant Leadershipnya th 1977, membuka mata pemimpin Amerika bahwa di dalam diri pemimpin ada 2 kualitas, yaitu kualitas didalam (“inner quality”, benteng pertahanan internal) dan kualitas diluar (mengasah otoritas dan pengaruh). Perubahan yang dibawa oleh pemimpin hendaknya masuk pada area ”inner quality” (sesuatu yang kecil ) ini.

Pernah ada perusahaan yang mendatangkan motivator terkenal dan konsultan “corporate culture” sudah bayar mahal sekali, hasilnya tidak nyata, tidak terasa di tahun depan. Lalu datang konsultan baru dan diteliti, ternyata mereka hanya memotivasi yang dari luar (hard motivation) kurang menyentuh ke dalam hati. Yang konsultan sebelumnya hanya berhenti memetakan system lalu membuatkan buku saku “corporate culture” plus 1-2 kali sosialisasi dan selesai. Intervensi yang relatif ”in-effektif”, perusahaan tetap salah kelola, inefisiensi dimana-mana, kinerjanya stagnan. Anda harus percaya ini, system bukan segalanya. ”Manusia yang menciptakan system, tapi karakter yang menciptakan manusia.” Oleh karena itu, sistem manajemen apapun yang dianut, biasanya tak jauh dari sistem dan cara pandang manusianya, bukan? Jika manusia yang membuat sistem, kurang pro efisiensi dan mutu, hanya pro hasil, otomatis ciptannya kurang lebih menggambarkan.

Kenneth Blancard juga mengatakan pentingnya menyentuh yang di dalam, “true leader starts on the inside with servant heart, then moves outward to serve others.”
Berikut ini beberapa fenomena dari sesuatu yang kecil namun memberi gambaran dari sesuatu yang lebih besar. “Ingat anak, ingat bapaknya.”
Bagaimana caranya kita bisa tahu dengan cepat kualitas pemimpin di suatu bangsa? Kelihatannya sulit, tapi mudah. Cobalah mengingat pepatah bijak ini, ”Jika anda ingin tahu kondisi sebuah bangsa, lihatlah jalan rayanya.” Jika kacau balau lalu lintasnya, maka kacaulah juga kondisi di dalam bangsa itu. Cocok bukan dengan Indonesia? Lihatlah lalu lintas di jalan Jakarta, itulah gambaran Indonesia kita, bukan? Jalan raya adalah sesuatu yang kecil dari sesuatu yang lebih besar. Ia bagai belalai gajah. Jika anda memegang belalai gajah, meski mata anda ditutup, anda pasti tahu itu seekor gajah, karena gajah sudah menendang anda..hmm.. Jika lalu lintas kacau menandakan kebiasaan manusianya juga kacau. Itu berarti kebiasaan rakyatnya juga kacau. Jika kebiasaan rakyatnya kacau, maka itu cerminan dari pemimpinnya yang kacau. Cocok bukan? Kalau mau tahu presidennya, bergaulah dengan rakyatnya. Kalau mau tahu bapaknya, bertemanlah dengan anak-anaknya. Mereka saling berhubungan satu sama lain. Jika jalan rayanya lancar seperti di Australia misalnya, maka negaranya juga baik, bukan? Jika pantainya bagus, apakah negaranya bagus? Oh..benar juga, pantai Kuta, Sanur dan Nusa Dua bagus dan pulau Bali ternyata memang bagus, aman dan indah. Sayang sudah dirusak reputasinya oleh sekelompok tangan jahil teroris. Namun, kebenaran sudah terungkap. Perusaknya adalah para pendatang dari luar Bali (umumnya teroris dari tanah Jawa). Sudah umum di antara orang Bali, yang mencuri sesajen mereka atau mencuri sepeda motor milik mereka pada umumnya adalah para pendatang, yang umumnya dari Jawa (maaf, jangan orang Jawa jangan cepat tersinggung, ini fakta adanya). Coba datang dan tanya orang Bali, kalau mau percaya. Pelajaran dari cerita Bali ini adalah moralitas sekelompok orang ternyata bisa saja dipelihara, dijaga, dilindungi, dipertahankan (dhi. budaya Bali) meski diganggu, dicemari lebih tepatnya, oleh budaya dari kelompok lain. Mengapa budaya Bali demikian kuat tertanam sampai ke dalam? Fondasi terkuatnya karena spiritual mereka yang mengakar dan kepercayaan agama ”hukum karma” yang ditaati oleh semua tua dan muda dengan rasa takut dan hormat. Semakin tertanam ke dalam, semakin sulit tercabut, bukan? Jika anda senang dengan dimensi waktu, silahkan tambah sendiri dengan itu. Membina attitude dan character yang baik, jika dimulai sejak dini, sejak masa anak-anak. Tak heran, perusahaan keluarga yang dimotori dan dimanajemeni oleh kakek-kakek tua (diatas 50th) biasanya sudah sulit dirubah, bukan? Bisa, tetapi sulit dan membutuhkan kesabaran ekstra.

Lebih dalam lagi? Untuk mengetahui kedalaman karakter seseorang, lihatlah tempat privatenya, misalnya kamar mandinya atau dapurnya, atau kamar tidurnya. Jika dapurnya atau kamar mandinya ”jorok”, maka pribadinya kurang lebih juga jorok, Jika tempat privatenya bersih, maka pribadinya juga bersih. Jika meja kerjanya berantakan, corak warna si pemilik meja, bisa diantara 2, terlalu kreatif (otak kanan) atau hidupnya benar-benar sedang berantakan (keluarganya kacau, karirnya tidak jelas, misalnya). Jika teamnya kacau, target tidak tercapai, losses & waste tinggi maka itulah gambaran pemimpinnya. Kurang lebih begitu, bukan? Semoga anda tidak tersinggung. Jika anda kurang puas, anda bisa menambahkan itu dengan buruknya sistem, jika anda senang dengan sistem. Cobalah mendalami perusahaan yang targetnya sering tidak tercapai, losses & waste tinggi, motivasi pekerjanya rendah, anda akan belajar lagi bahwa bukan sistem yang jadi penyebabnya.
Sederhananya, true leader starts on the inside. Mulailah dari dalam diri sendiri dengan sesuatu yang benar.

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer